Jumat, 07 November 2014

Jangan Lewatkan, Festival Sei Mahakam di BBJ, 7-16 November 2014


Festival Budaya Sei Mahakam yang terselenggara atas kerja sama Yayasan Total Indonesia dan Bentara Budaya Jakarta resmi dibuka pada Kamis (6/11/2014) pukul 20.30 WIB. 
Peresmian festival ini dilakukan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur Aswin, Wakil Bupati Kutai Kartanegara, M Ghufron, Vice Ceo Kompas Gramedia Liliek Oetama, dan Presiden dan General Manager Total E&P Indonesie Hardy Pramono.

Pembukaan festival pun ini ditandai dengan penyalaan Brong (obor) yang merupakan budaya dari Kalimantan Timur seperti pada upacara Erau. Sebanyak 3 Brong dinyalakan oleh pejabat tertinggi Kalimantan Timur yang hadir di Bentara Budaya Jakarta, Kamis malam.

Selain itu, mereka juga diberikan cindera mata kerajinan hasil tangan masyarakat sekitar Sungai Mahakam. Pembagian cinderamata dilakukan oleh Putra Mahkota Kesultanan Indonesia Martadipura, Aji Pangetan Prabu Adipati Anom Surya Adiningrat.

Festival yang diselenggarakan oleh Yayasan Total Indonesia bersama Bentara Budaya Jakarta, ini berlangsung mulai 6-16 November 2014 di Bentara Budaya Jakarta dan terbuka gratis untuk umum. Acara berlangsung dari pukul 10.00 hingga pukul 18.00.

"Dalam Festival Budaya Sei Mahakam ini kami juga memiliki kegiatan interaktif untuk pengunjung, seperti belajar tari Dayak, demo masak makanan khas Kutai dan Dayak serta bincang-bincang dengan para perajin anyaman, ketinting dan tenun Ulap Doyo,” kata Eddy Mulyadi, Ketua Yayasan Total Indonesia. Jual Kain Batik Betawi

Selain pameran dan pertunjukan, dalam festival ini juga diselenggarakan seminar-seminar dengan topik “Keraton Kutai, Masa Lalu, Kini Dan Yang Akan Datang”, “Potensi Pariwisata Kutai Kartanegara” dan “Pesut Mahakam”.

Berikut agenda Festival Budaya Sei Mahakam:

Kamis, 6 November 2014 
19.00 Peresmian pameran
Pementasan Tari Jepen dari Sanggar Tari Gubang
Pemutaran Video Sei Mahakam
Mengunjungi Pameran

Jumat, 7 November 2014 
10.00 - 18.00 Pameran untuk umum
Demo: Anyaman, Tenun Ulap Doyo dan Sulam Tumpar Virtual Tour
14.00 - 16.00 Seminar “Keraton Kutai Masa Lalu, Kini dan yang Akan Datang“
Pembicara: Dr H.A.P.M. Harryanto Bachroel.
Gelar: Pangeran Harry Gondo Prawiro (Menteri Sekretaris Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura).
Prof Dr Edi Sedyawati.
16.00 - 18.00 Demo Masakan khas Kutai kerjasama dengan Tabloid Saji
19.00 - 20.30 Pesona Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura
Upacara Adat Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura
Tarian Keraton oleh Kerabat Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura

Sabtu, 8 November 2014 
10.00 - 18.00 Pameran untuk umum
Demo: Anyaman, Tenun Ulap Doyo dan Sulam Tumpar Virtual Tour
16.00 - 17.00 Peragaan Busana Suku Kutai oleh Sanggar Tari Gubang
19.00 - 20.00 Pementasan Tari Jepen oleh Sanggar Tari Gubang
20.00 - 21.30 Pentas Teater Rakyat Mamanda oleh Sanggar Panji Berseri dari Tenggarong Kutai Kartanegara

Minggu, 9 November 2014 
10.00 - 18.00 Pameran untuk umum
Demo: Anyaman, Tenun Ulap Doyo dan Sulam Tumpar Virtual Tour
14.00 - 15.00 Meet the Maker: Syafruddin (perajin Ketinting), Hamidah Imam (perajin Ulap Doyo dan Sulam Tumpar), Hangin Bang (penganyam)
16.00 - 18.00 Pentas Tari Jepen oleh Sanggar Tari Gubang

Senin, 10 November 2014 
10.00 - 18.00 Pameran untuk umum
Demo: Anyaman, Tenun Ulap Doyo dan Sulam Tumpar Virtual Tour
14.00 - 17.00 Seminar “Potensi Pariwisata Kutai Kartanegara dan Buaya Muara”

Selasa, 11 November 2014 
10.00 - 18.00 Pameran untuk umum
Demo: Anyaman, Tenun Ulap Doyo dan Sulam Tumpar Virtual Tour
09.00 - 17.00 Kunjungan siswa sekolah

Rabu, 12 November 2014
10.00 - 18.00 Pameran untuk umum
Demo: Anyaman, Tenun Ulap Doyo dan Sulam Tumpar Virtual Tour
09.00 - 17.00 Kunjungan siswa sekolah

Kamis, 13 November 2014 
10.00 - 18.00 Pameran untuk umum
Demo: Anyaman, Tenun Ulap Doyo dan Sulam Tumpar Virtual Tour
09.00 - 17.00 Kunjungan siswa sekolah
14.00 - 16.00 Seminar “Selamatkan Pesut Mahakam”
Pembicara: Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, TOTAL E&P INDONESIE, Institut Pertanian Bogor, Yayasan Konservasi RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia).

Jumat, 14 November 2014 
10.00 - 18.00 Pameran untuk umum
Demo: Anyaman, Tenun Ulap Doyo dan Sulam Tumpar Virtual Tour
14.00 - 16.00 Demo memasak Makanan Khas Dayak oleh Ibu Hangin Bang kerjasama dengan Tabloid Saji
16.00 - 17.00 Pentas Tari Dayak oleh Sanggar Tari Pokan Takaq dari Tenggarong Kutai Kartanegara

Sabtu, 15 November 2014 
10.00 - 18.00 Pameran untuk umum
Demo: Anyaman, Tenun Ulap Doyo dan Sulam Tumpar Virtual Tour
16.00 - 17.00 Pentas Tari Dayak oleh Sanggar Tari Pokan Takaq dari Tenggarong Kutai Kartanegara

Minggu, 16 November 2014 
10.00 - 18.00 Pameran untuk umum
Demo: Anyaman, Tenun Ulap Doyo dan Sulam Tumpar Virtual Tour
16.00 - 18.00 Penutupan Peragaan busana suku Dayak oleh Sanggar Tari Pokan Takaq dan Koleksi Batik Chic
Pentas Tari Dayak oleh Sanggar Tingang Madaang Jakarta.

Jumat, 24 Oktober 2014

"Pak Basuki, Kangen Enggak sama Pak Jokowi?"


Masa kanak-kanak merupakan masa yang terindah dan penuh tawa. Tumbuh kembang anak dalam mengenal lingkungan sekitar beserta orang-orang di sekelilingnya terjadi secara alamiah dan menggemaskan. Hal ini dibuktikan lewat salah satu acara kunjungan anak-anak sekolah dasar (SD) ke kantor Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, di Balaikota, Jumat (24/10/2014). Kain batik betawi

Hari ini, sejumlah anak-anak SD dari SDN 01 Menteng, SD Gondangdia, Belarminus, Kembang, dan PSKD Mandiri, tampak begitu bersemangat bermain-main bersama Ahok. Dengan ekspresi lucu, beberapa dari anak-anak SD tersebut meminta Ahok untuk bercerita soal Jakarta, menjelaskan tugas-tugasnya, dan menggambar Monas pada kertas lukis. Tentunya, dengan semangat yang sama, Ahok pun melakukan semua permintaan tamu-tamu ciliknya tersebut.

Sebuah kejadian lucu dan menarik terjadi saat anak-anak bermain di ruang kerja Ahok, tiba-tiba salah satu anak bertanya, “Pak Basuki, Bapak kangen enggak sama Pak Jokowi?”
Sontak, semua yang berada di dalam ruangan mendadak diam dan tersentuh mendengar pertanyaan lugu tersebut.

Kemudian, Ahok menjawab, "Kangen, karena enggak ada tempat melapor lagi. Sekarang, cuma dihalangi Monas. Pak Jokowi ada di seberang." Maksud dari jawaban Ahok itu adalah soal jarak kantornya di Balaikota dengan kantor Jokowi di Istana Negara. Kedua lokasi tersebut seperti kita ketahui memang dipisahkan oleh Tugu Monas.  

Selanjutnya, seorang anak SD lainnya bertanya, "Pak Basuki kalau kerja serius tidak?", yang kemudian disambut tawa oleh pengunjung lainnya, termasuk Ahok.
"Dikiranya saya tidak serius," jawab Ahok yang kala itu mengenakan kemeja batik berwarna coklat.  

"Surat-surat di meja ini dibaca, kemudian diberi disposisi, agar bisa minta tolong staf bantu mengerjakannya. Baca cepat, bantu cepat,"  terangnya.
Seusai mendengar jawaban Ahok, tamu ciliknya tersebut merasa takjub dan kembali bertanya apakah benar tumpukan surat tebal di mejanya harus dibaca semua.

Selain menjawab pertanyaan dari tamu-tamu ciliknya, Ahok juga mengajarkan anak-anak mengenai permasalahan yang dihadapi oleh Kota Jakarta, yakni kemacetan, banjir, dan sampah. Secara singkat, dengan bahasa yang mudah dimengerti anak-anak, Ahok menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan untuk mengurangi permasalahan tersebut.
Pada akhir acara, Ahok pun mengimbau anak-anak agar tidak membuang sampah sembarangan. Hal tersebut pun disambut anggukan oleh anak-anak yang tadi kompak mengenakan seragam sekolah masing-masing.

Senin, 06 Oktober 2014

Batikology.org dan Donasi, Cara Indosat Berperan Serta Melestarikan Batik


Keagungan batik sebagai warisan budaya Indonesia kembali diperingati dengan perayaan Hari Batik Nasional, Kamis (2/10) lalu. Tahun ini menandakan tahun ke-5 Batik diakui sebagai warisan budaya khas Indonesia oleh UNESCO.

Bertepatan dengan perayaan Hari Batik Nasional, Indosat kembali menunjukkan komitmennya dalam pelestarian kain bercorak yang menjadi identitas bangsa tersebut. Indosat meluncurkan sebuah portal digital berkonsep user generated content (UGC) bernama BATIKOLOGY.org. Melalui portal ini Indosat mencoba mengajak seluruh anggota masyarakat terutama pelanggan Indosat untuk memberi kontribusi dalam melestarikan batik.

“BATIKOLOGY.org adalah cara kami untuk mengekspresikan nasionalisme dan kecintaan kami kepada negeri. Kami bangga dapat ambil bagian dalam pelestarian batik sebagai salah satu warisan budaya bangsa,” ujar Alexander Rusli, President Direktur dan CEO Indosat.

BATIKOLOGY.org merupakan portal UGC pertama di Indonesia dan di dunia yang mengusung batik dan pelestariannya. Pelanggan Indosat sebagai user dapat mengeksplorasi beragam konten menarik, interaktif dan relevan mengenai batik dalam portal ini. Selain itu, user juga dapat berkontribusi membagikan informasi di dalamnya.

Portal UGC ini memiliki tiga fitur utama yaitu Batik Spot, Batiknowledge dan Galeri Batik. User dapat merekomendasikan tempat-tempat pembuatan atau penjualan batik favorit kepada user lain terutama travelermelalui fitur Batik Spot. Caranya cukup dengan check-in di tempat-tempat tersebut.

Sementara jika ingin berbagi pengetahuan seputar batik, user dapat mengakses fitur Batiknowledge. Berbagai informasi mulai dari tipe-tipe batik Nusantara sampai tips merawat batik dapat dibagikan di sini.User juga dapat meramaikan BATIKOLOGY.org dengan berbagi foto-foto bertema batik lewat fitur Galeri Batik. Foto dapat diunggah dengan mencantumkan #Batikology.

Selain melalui portal BATIKOLOGY.org, dukungan Indosat dalam pelestarian batik juga dilakukan lewat rangkaian kegiatan lain. Baru-baru ini Indosat menyerahkan donasi kepada tokoh pembina industri batik Indonesia, Darwina Pontjo Sutowo. Donasi tersebut berasal dari hasil penjualan voucher isi ulang edisi batik yang khusus diterbitkan pada Hari Batik Nasional tahun 2013 lalu. Indosat menyisihkan sebesar Rp 50,- pervoucher tanpa memotong pulsa pelanggan. Jual kain bati betawi murah

Untuk memeriahkan perayaan Hari Batik Nasional tahun ini, Indosat mengadakan kompetisi Photo Story #Batikology yang akan berlangsung sampai 15 November 2014. Cara berpartisipasinya mudah, cukup dengan mendaftarkan diri di www.batikology.org dan follow Twitter @indosatmania. Peserta kemudian dapat langsung mengunggah foto tema Batik mereka ke Twitter.

Untuk memenangkan kompetisi ini peserta diwajibkan menyertakan cerita tentang keunikan batik yang terdapat dalam foto. Misalnya saja nama pengrajin, sejarah, arti motif batik, cerita di balik batik, dan lain-lain dengan menyertakan #Batikology dan mention @indosatmania. Peserta dengan foto dan cerita paling menarik akan berhak menerima hadiah dari Indosat.

Sabtu, 20 September 2014

Tips Merawat Batik Berbahan Sutra & Serat

Agar warna batik berbahan sutra dan serat tidak cepat pudar, awet dan tetap tampak indah. Mencuci kain batik dengan menggunakan shampo rambut. Sebelumnya, larutkan dulu shampo hingga tak ada lagi bagian yang mengental. Setelah itu baru kain batik dicelupkan.
Anda juga bisa menggunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik yang dijual di pasaran. Pada saat mencuci batik jangan digosok. Jangan pakai deterjen. Kalau batik tidak kotor cukup dicuci dengan air hangat. Sedangkan, kalau kotor, misalnya terkena noda makanan, bisa dihilangkan dengan sabun mandi atau bila kotor sekali, seperti terkena buangan knalpot, noda bisa dihilangkan dengan kulit jeruk dengan mengusapkan sabun atau kulit jeruk pada bagian yang kotor. Batik Betawi online
Tips merawat Batik  – Sebaiknya Anda juga tidak menjemur kain batik di bawah sinar matahari langsung (tempat teduh). Kain batik jangan dicuci dengan menggunakan mesin cuci. Tak perlu memeras kain batik sebelum menjemurnya. Namun, pada saat menjemur, bagian tepi kain agak ditarik pelan-pelan supaya serat yang terlipat kembali seperti semula.
Sebaiknya hindari penyeterikaan. Kalaupun terlalu kusut, semprotkan air di atas kain kemudian letakkan sebuah alas kain di bagian atas batik itu baru diseterika. Jadi, yang diseterika adalah kain lain yang ditaruh di atas kain batik.
Disarankan untuk menyimpan batik dalam plastik agar tidak dimakan ngengat. Jangan diberi kapur barus, karena zat padat ini terlalu keras sehingga bisa merusak batik. Sebaiknya, almari tempat menyimpan batik diberi merica yang dibungkus dengan tisu untuk mengusir ngengat. Alternatif lain menggunakan akar wangi yang sebelumnya dicelup dulu ke dalam air panas, kemudian dijemur, lalu dicelup sekali lagi ke dalam air panas dan dijemur. Setelah akar wangi kering, baru digunakan
Anda sebaiknya juga tidak menyemprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain atau pakaian berbahan batik sutera berpewarna alami.
Bila Anda ingin memberi pewangi dan pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain dengan koran, baru semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Sejarah Batik

Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta.
Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda.
Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.
Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.

Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanahlumpur.


Jaman Majapahit

Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, pat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojoketo adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.

Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahati, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan disekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluara kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulungagung antara lain juga membawa kesenian membuat batik asli.

Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Diluar daerah Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Pada akhir abad ke-XIX ada beberapa orang kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya.

Obat-obat luar negeri baru dikenal sesudah perang dunia kesatu yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri. Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya dipasar Porong Sidoarjo, Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh, karena pengusaha-pengusaha kebanyakan kecil usahanya. Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Jepang masuk ke Indonesia, dan waktu pendudukan Jepang kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan.

Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Yang dikenal sejak lebih dari seabad yang lalu tempat pembatikan didesa Majan dan Simo. Desa ini juga mempunyai riwayat sebagai peninggalan dari zaman peperangan Pangeran Diponegoro tahun 1825.

Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahait namun perkembangan batik mulai menyebar sejak pesat didaerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakata, pada jaman kerajaan di daerah ini. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipenagruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.

Didalam berkecamuknya clash antara tentara kolonial Belanda dengan pasukan-pasukan pangeran Diponegoro maka sebagian dari pasukan-pasukan Kyai Mojo mengundurkan diri kearah timur dan sampai sekarang bernama Majan. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan ini desa Majan berstatus desa Merdikan (Daerah Istimewa), dan kepala desanya seorang kiyai yang statusnya Uirun-temurun.Pembuatan batik Majan ini merupakan naluri (peninggalan) dari seni membuat batik zaman perang Diponegoro itu.

Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Sebagai batik setra sejak dahulu kala terkenal juga didaerah desa Sembung, yang para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Sala yang datang di Tulungagung pada akhir abad ke-XIX. Hanya sekarang masih terdapat beberapa keluarga pembatikan dari Sala yang menetap didaerah Sembung. Selain dari tempat-tempat tesebut juga terdapat daerah pembatikan di Trenggalek dan juga ada beberapa di Kediri, tetapi sifat pembatikan sebagian kerajinan rumah tangga dan babarannya batik tulis.


Jaman Penyebaran Islam

Riwayat pembatikan di daerah Jawa Timur lainnya adalah di Ponorogo, yang kisahnya berkaitan dengan penyebaran ajaran Islam di daerah ini. Riwayat Batik. Disebutkan masalah seni batik didaerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam dan kerajaan-kerajaan dahulu. Konon, di daerah Batoro Katong, ada seorang keturunan dari kerajaan Majapahit yang namanya Raden Katong adik dari Raden Patah. Batoro Katong inilah yang membawa agama Islam ke Ponorogo dan petilasan yang ada sekarang ialah sebuah mesjid didaerah Patihan Wetan.

Perkembangan selanjutanya, di Ponorogo, di daerah Tegalsari ada sebuah pesantren yang diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Pesantren Tegalsari ini selain mengajarkan agama Islam juga mengajarkan ilmu ketatanegaraan, ilmu perang dan kesusasteraan. Seorang murid yang terkenal dari Tegalsari dibidang sastra ialah Raden Ronggowarsito. Kyai Hasan Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Kraton Solo.

Waktu itu seni batik baru terbatas dalam lingkungan kraton. Oleh karena putri keraton Solo menjadi istri Kyai Hasan Basri maka dibawalah ke Tegalsari dan diikuti oleh pengiring-pengiringnya. disamping itu banyak pula keluarga kraton Solo belajar dipesantren ini. Peristiwa inilah yang membawa seni bafik keluar dari kraton menuju ke Ponorogo. Pemuda-pemudi yang dididik di Tegalsari ini kalau sudah keluar, dalam masyarakat akan menyumbangkan dharma batiknya dalam bidang-bidang kepamongan dan agama.

Daerah perbatikan lama yang bisa kita lihat sekarang ialah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Waktu itu obat-obat yang dipakai dalam pembatikan ialah buatan dalam negeri sendiri dari kayu-kayuan antara lain; pohon tom, mengkudu, kayu tinggi. Sedangkan bahan kainputihnyajugamemakai buatan sendiri dari tenunan gendong. Kain putih import bam dikenal di Indonesia kira-kira akhir abad ke-19.
 Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas. Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur dan itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo. Akibat dikenalnya batik cap maka produksi Ponorogo setelah perang dunia petama sampai pecahnya perang dunia kedua terkenal dengan batik kasarnya yaitu batik cap mori biru. Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal seluruh Indonesia.